Megawati Soekarnoputri dan Hasyim Muzadi

PROFIL MEGAWATI SOEKARNOPUTRI
Petuah berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, benar-benar dihayati oleh Megawati Soekarnoputri, Presiden RI sekaligus capres dari PDIP. Maklum, pada masa Orde Baru, hidupnya benar-benar mengalami masa kelam. Semenjak ayahnya, Soekarno, dilengserkan, hak-hak keluarganya dipangkas pemerintah Orde Baru.

Dalam buku Megawati Soekarnoputri: Dari Ibu Rumah Tangga sampai Istana Negara (Sumarno, 2002) dituliskan bahwa tahun-tahun setelah jatuhnya Bung Karno dari kursi presiden merupakan situasi yang amat melukai perasaan Megawati. Ia meninggalkan kuliah dan mendampingi ayah yang sakit dan dikucilkan. Megawati merasakan benar keguncangan jiwa ayahnya saat itu.

Usai ayahnya meninggal. Cobaan terus membekapnya. Dalam keadaan hamil, suami pertamanya — seorang pilot pesawat tempur TNI AU – hilang akibat mengalami kecelakaan dan jatuh di Biak, Papua, 1970. Dua tahun hidup menjanda, pada 1972 Megawati menikah dengan Hassan Gamal, warga negara Mesir. Perkawinannya kandas di tengah jalan lantaran dianulir peraturan militer saat itu. Alasannya suaminya yang hilang belum dipastikan meninggal. Setelah suami pertamanya dipastikan meninggal, Megawati menikah lagi dengan Taufik Kiemas, seorang pengagum Bung Karno. Taufik banyak berperan dalam karirnya, terutama memberi dukungan kepada Mega untuk menekuni karir politik.

Megawati memiliki nama lengkap Dyah Permata Megawati Soekarnoputri, lahir di Yogyakarta pada 23 Januari 1947. Secara psikologis kehidupannya sejak kecil terkekang. Pengalaman ini membayangi perkembangan kepribadiannya. Sebagai anak presiden, gerak-gerik dan rentang pergaulan Megawati terbatas seputar istana. Inisiatif mengajaknya bergaul dengan masyarakat kebanyakan kerap kali mengalami penolakan dari para pengasuhnya.

Menurut Megawati, ia banyak belajar dari Bu Fat tentang cara-cara memelihara ketabahan dalam menghadapi penderitaan apa pun. Ada indikasi Megawati menginternalisasi sifat-sifat dan kepercayaan ibunya. Ketidaksetujuan Fatmawati atas perkawinan Bung Karno dengan Hartini, dan Bung Karno yang dalam hidupnya banyak berhubungan dengan perempuan lain, bisa memberikan gurat-gurat tersendiri dalam kepribadian Megawati.

Megawati sebagai anak perempuan tertua dengan satu kakak lelaki, memiliki kedekatan dengan ibu dapat dipastikan mengalami kesedihan dan pukulan psikologis menghadapi keluarnya Ibu Fatmawati dari istana pada waktu berpisah dari Soekarno.

Di sisi lain, masa lalu banyak mengajarkan dan memberikan hal positif bagi Megawati. Kehidupan istana yang menjadi pusat pemerintahan Orde Lama menjadi pembiasaan awal yang kuat pada diri Megawati untuk terlibat dalam aktivitas politik. Meski sejak remaja tak menunjukkan bakat politik yang istimewa, kesehariannya di istana mampu memberinya atmosfir pengetahuan mengenai politik.

Interaksi Megawati sejak kecil dengan tokoh politik memberi pengaruh signifikan terhadap perkembangan kepribadian politiknya. Kepekaan terhadap seluk-beluk politik sudah terbina dalam proses hubungan dengan ayahnya. Dalam percakapan dengan Bung Karno, Megawati banyak memetik pelajaran tentang politik yang terus diingatnya hingga kini.

Mega memiliki modal kekerasan hati, salah satu sifat yang dibutuhkan politikus. Tanpa itu, seorang politikus akan gampang menyerah, sulit membangun pengaruh, dan tidak dapat mencapai posisi yang baik dalam karir politik. Kekerasan hati, kemampuan bersaing, dan keinginan memberikan pengaruh terhadap orang lain, menurut ahli psikologi Alfred Adler, merupakan ciri anak kedua.

Perbedaan sikap lingkungan dengan anak pertama yang sering lebih diandalkan keluarga menghasilkan semacam standar pada diri anak kedua untuk dapat mengungguli anak pertama. Ciri-ciri anak kedua ini muncul pada Megawati.

Kemampuannya bersaing dan ambisi di dunia politik yang membawanya duduk di kursi presiden sebagai contoh indikasi kepribadian sebagai anak kedua. Meski Megawati mengaku terlibat politik karena dipaksa keadaan, potensi menjadi figur politik sudah dimilikinya. Keadaan memupuk potensi itu menjadi aktualita seperti sekarang.

Tekanan politik penguasa Orde Baru terhadap kehidupan keluarga memberikan tambahan dorongan bagi Megawati untuk terlibat dalam aktivitas politik. Hidup diisolasi dan aktivitas dibatasi memberi semacam perasaan diperlakukan tidak adil.

Keluarga Bung Karno mencoba berbesar hati menanggapi tekanan ini dengan berusaha untuk tidak larut. Bahkan, tahun 1982, keluarga besar Bung Karno membuat konsensus yang menyatakan seluruh keluarga Bung Karno tidak dibenarkan memihak salah satu kekuatan politik yang ada.

Kesepakatan ini dilanggar Megawati dan Guruh, dengan menerima ajakan Soerjadi untuk menjadi vote getter PDI dalam Pemilu 1987. Dengan berbagai alasan keduanya memutuskan terjun ke dunia politik. Meski secara praktis Megawati adalah pemula, dasar kepribadian politiknya memberi kesiapan untuk bereaksi secara memadai, terhadap dinamika kehidupan politik. Keterlibatannya itu disertai dengan banyak pertimbangan dan kesiapan untuk menghadapi dunia politik.

Menurut Megawati, ia menyadari konsekuensi memasuki dunia politik yang sarat konflik kepentingan dan perebutan kekuasaan. Ia juga memahami betapa sumirnya arti persahabatan dan persaudaraan yang didasarkan atas kepentingan politik. Tidak ada kawan dan lawan yang abadi. Hanya kepentingan yang abadi. Halal dan haram sering diabaikan demi pencapaian tujuan politik.

Potensi perilaku politik yang terbina sejak kecil, kemampuan belajar yang tinggi dan cepat, dan isu kembalinya “Bung Karno” ke dunia politik, serta blow up media massa yang terkesan berpihak pada Megawati mendongkrak perolehan suara PDI menjadi 40 kursi pada Pemilu 1987. Sejak itu, karir politik Megawati menunjukkan tanda cemerlang, banyak mendapat simpati dan menjadi magnet bagi PDI menarik massa.

Setelah insiden 27 Juli, Megawati menjadi tokoh kuat yang diharapkan dapat memberikan pembaruan kepada Indonesia, meski harapan itu tidak didasarkan pada fakta adanya ide dan program yang secara jelas menjanjikan pembaruan. “Pejah gesang nderek Mbak Mega”, para pendukung Megawati lebih banyak berbekal keyakinan bahwa Megawati akan jadi juru selamat mereka. Saat itu Mega menjadi keajaiban politik Indonesia kontemporer, menjadi aktor politik fenomenal.

Bersama KH Abdurrahman Wahid, Amien Rais, dan Sultan Hamengku Buwono X, Megawati membentuk kelompok Ciganjur yang ikut mendorong upaya demokratisasi melalui penyelenggaraan Pemilu 1999, yang akhirnya dimenangi oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Tetapi, dalam pemilihan presiden, Megawati kembali menjadi korban politik setelah digagalkan oleh Poros Tengah untuk menjadi presiden.

Kini semua bayangan nelangsa itu hilang. Ketika Gus Dur tak memuaskan anggota MPR, Mega pun didaulat menjadi presiden. Walau pribadinya terkesan pelit bicara, faktanya pada masa kepemimpinan Mega, pertumbuhan ekonomi negara mulai maju. Kondisi politik pun relatif stabil.

Tapi kebanyakan pengamat memberi catatan, dia kerap membuat kebijakan yang tak populis. Pada masa pemerintahannya harga bahan bakar minyak naik, begitupula tarif telepon dan listrik. Ini masih diperparah dengan tindakannya yang tak tegas terhadap M. A. Rachman, Jaksa Agung yang dianggap korupsi dan kasus Menteri Agama, Sayid Agil. Banyak yang memberi nota pemerintahan Mega tak suskses memerangi KKN. Ia masih dinilai lambat dalam penegakan hukum, tak mampu bersikap tegas, hingga lunturnya komitmen untuk membela wong cilik.

Walau begitu, dengan percaya diri, PDIP masih mengajukan sebagai capres 2004. Terbukti dia memenangi urutan kedua Pemilu Presiden putaran pertama, dan berhak mengikuti putaran selanjutnya.

PROFIL HASYIM MUZADI
Maraknya pencalonan presiden RI 2004, mengena juga kepada Hasyim Muzadi, Ketua PBNU. Mulanya Golkar kepincut padanya, tapi dia menambatkan hatinya pada Megawati.

Memang, Pencalonannya mendampingi Megawati terbilang alot. Gus Dur tak merestuinya, hingga banyak yang memandang sebelah mata padanya. Ia enggan memberikan komentar. Ia tetap memberikan komitmen untuk mengurus NU dan tak akan meninggalkan amanat yang telah diberikan kepadanya hanya karena ingin menjadi pejabat. “Saya tak akan mengajukan diri karena tugas saya mengurusi umat, bukan menjadi pejabat,” kata Muzadi seperti yang diberitakan Harian Kompas.

Lahir di Tuban Jawa Timur, 8 Agustus 1944, anak ketujuh dari delapan bersaudara. Ayahnya, Muzadi, asli Tuban, seorang pedagang tembakau yang juga santri Kiai Kholil Bangkalan, Madura. Ibunya, Rumyati, seorang ibu rumah tangga, keturunan Kiai Mas’ud Saden, Lasem, Jawa Tengah.

Ia mulai bersekolah pada usia enam tahun. Sedari muda ia sudah sibuk berorganisasi. Muzadi dinilai berhasil ketika menjadi Ketua NU Jawa Timur. Oleh karena itu pada Konferensi Wilayah NU Jawa Timur 1997, Hasyim terpilih kembali sebagai ketua. Cak Hasyim juga berhasil mendirikan pesantren Al-Hikam di kawasan elite kota Malang pada 1990.

Kesediaannya menjadi calon wakil presiden dari calon presiden Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menimbulkan kontroversi di kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Ia akhirnya dinon-aktifkan oleh Syuriah Pengurus Besar NU pada 15 Mei 2004.

Keputusannya itu bukannya tanpa “syarat”. Ia baru menyatakan persetujuannya ketika Megawati menjamin bahwa Hasyim bisa mewujudkan segala gagasan yang ia bangun selama menjadi Ketua Umum Tanfidziyah PBNU sejak tahun 1999 jika terpilih menjadi wapres.

Gagasan dan langkah yang dibangunnya selama di NU, pertama, adalah membangun ukhuwah nahdliyah, yakni ia ingin mewujudkan NU sebagai “tenda besar” bagi seluruh orang NU lintas politik, lintas golongan, lintas profesi, dan lintas strata sosial, dan nonpartisan.

Kedua, membangun ukhuwah islamiyah dengan mendekati sejumlah organisasi Islam lainnya seperti Muhammadiyah, Al-Irsyad, bahkan Hisbut Tahrir Indonesia. Tujuannya agar tidak terjadi ekstremisme di Islam, tidak ada pertikaian antar-umat Islam, dan mengangkat citra umat Islam di dunia internasional.

Ketiga, membangun kerja sama lintas agama dengan Gerakan Moral Nasional Indonesia. Di situ ada Syafii Maarif, Nurcholish Madjid, Roeslan Abdulgani, Julius Kardinal Darmaatmadja SJ, Pendeta Andreas Yewangoe, dan Ibu Gedong Bagoes Oka (almarhum).

Keempat, membangun ukhuwah wathoniyah agar NU menjadi titik temu seluruh elemen bangsa mulai dari yang paling kanan dan paling kiri.

Kelima, memperkenalkan ide-ide Islam di dunia internasional melalui International Conference of Islamic Scholar 23 Februari 2004.

Hayim sering dikategorikan pengamat sebagai “ulama NU struktural”. Alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jatim, tersebut merintis karir di NU sebagai Ketua Ranting NU Bululawang, Malang, Jatim, tahun 1964. Secara berjenjang, ia menjadi Ketua Pengurus Cabang NU Malang (1973-1977), Ketua Pengurus Wilayah NU Jatim (1992-1999) sebelum terpilih menjadi Ketua Umum Tanfidziyah PBNU 26 November 1999.

Dari riwayat hidupnya, ternyata Hasyim pernah mengenyam pengalaman di bidang politik praktis. Suami Hj Muthamimah dengan enam anak ini menjadi Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan Malang tahun 1973-1977.

KEBIJAKAN MENGENAI LINGKUNGAN
Megawati sejatinya memiliki background lingkungan yang kuat. Soekarno, dalam pidatonya yang terangkum dalam buku Revolusi Belum Selesai, pernah menyebut nyebut, dia menyekolahkan Megawati ke Fakultas Pertanian bukannya tanpa alasan.
Dia berharap Megawati kelak mengerti seluk beluk teknologi pertanian, untuk mengembangkan pertanian di Indonesia sebagai salah satu tiang perekonomian Indonesia. Harapan Soekarno memang tinggal harapan. Mega tak menamatkan kuliahnya.

Sedangkan Hasyim Muzadi jelas tak memiliki latar belakang mengenai lingkungan hidup. Dia seorang santri tulen yang gemar berorganisasi. Sepanjang karirnya dia tak pernah terlibat langsung dalam persoalan lingkungan hidup.

Megawati-Hasyim menempatkan lingkungan hidup dalam kategori program kerja di bidang ekonomi. Mega menyebut ekonomi mesti ditunjang dengan pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan hidup, yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

11. TV 7, Tajuk Pagi, edisi 5 Juni 2004

Untuk mengaplikasikannya, mereka akan melakukan penataan pengelolaan sumber daya alam yang berkesinambungan dan pemulihan kondisi lingkungan hidup dengan baik, serta mencegah kerusakan sumber daya alam dan lingkungan hidup yang lebih parah.11



© 2004, ISAI
Tim Penulis: Ludhy Cahyana, Tri Mariyani Parlan    Tim Peneliti: Dyah Listyorini, Iwan Achmad Ambiya, Waryanto, Nanin Upiyanti, Juita Kartini    Diterbitkan oleh: Institut Studi Arus Informasi (ISAI)/Koalisi Media untuk Pemilu Bebas dan Adil serta didukung oleh Greencom.