Wiranto dan Solahuddin Wahid

PROFIL WIRANTO
Jenderal (Purn) Wiranto lahir di Yogyakarta, 4 April 1947. Dia anak keenam dari sembilan bersaudara. Ayahnya, Wirowiyoto, seorang kepala sekolah rakyat (SR). Tak seperti kelahiran bayi lelaki umumnya, yang diberi nama oleh sang ayah. Wiranto memperoleh nama dari sang ibu. Dalam bahasa Jawa namanya berasal dari dua suku kata: wira dan anto, yang berarti anak yang berani.

Sejak kecil kehidupannya tak bisa dibilang mewah. Dia harus berbagi rata dengan saudara-saudaranya, baik untuk urusan jajan maupun penganan. Dia dan saudaranya memiliki tugas masing-masing membantu orangtuanya. Setiap tanggal 4 April, dia tak pernah mengecap meriah ulang tahun dengan hadiah dan roti yang lezat atau tumpukan kado.

Untuk mencukupi uang jajan dan sekolahnya dia harus berjualan koran. Hasilnya, selain untuk membayar uang sekolah, dia pakai membeli singkong untuk makan. Sejak kecil ia terbiasa bangun subuh untuk membantu keluarganya.

Tempaan keras sejak kecil, membentuk kepribadiannya untuk selalu menjadi yang terbaik. Keluarganya yang pas-pasan dengan jumlah anak yang banyak, membuatnya menahan diri, serta membantu dan memahami situasi keluarga.

Dia harus dapat mengatur dan membantu diri sendiri karena keluarga harus membagi perhatian kepada banyak orang. Pembiasaan untuk mandiri, menahan diri, sigap, disiplin, dan pandai membaca situasi yang ditanamkan oleh bapak-ibunya bertahan hingga kini.

Sejak kecil dia bercita-cita menjadi tentara. Mungkin jalan pintas untuk “aman” dari ketergantungan terhadap orangtuanya. Dia ingin lekas mandiri. Dalam bukunya, Bersaksi di Tengah Badai, ditulis bahwa dia sudah mendambakan menjadi tentara sejak dini. Setiap kali ada anggota keluarganya yang bepergian, dia meminta helm baja seperti milik tentara.

Cita-citanya tercapai, saat dia diterima masuk Akademi Militer Nasional (AMN) pada 1965. Dan menyelesaikan pendidikan militer itu pada 1968. Setahun kemudian, dia mendapat tugas ke Gorontalo sebagai Komandan Peleton Batalyon Infanteri 713 Gorontalo.

Di sana garis jodohnya berbicara. Perkenalannya dengan Rugaiya, putri seorang petani kelapa kelahiran Pauwo Kabila, Gorontalo, membuatnya dimabuk cinta. Dia menikahi gadis itu. Wiranto biasa menyapa Uga kepada istrinya itu. Dari perkawinan itu, dia dikaruniai tiga buah hati: Amalia Sianti, Ika Mayasari, dan Zaenal Nurrizki.

Karirnya terbilang menanjak cepat. Pada 1985 dia menjabat Kepala Staf Brigade Infanteri IX/ Kostrad, 1 Mei 1985. Butuh waktu empat tahun baginya menduduki jabatan Asisten Operasi Divisi II/Kostrad. Karirnya makin kinclong saat dia menjadi ajudan Presiden Soeharto, (1 Oktober 1989-1 Oktober 1993). Dia kemudian menduduki jabatan Kepala Staf Komando Daerah Militer (Kasdam) Jaya, 25 Maret 1993-November 1994. Lalu pada 1994 dia menjadi Panglima Kodam Jaya (Pangdam Jaya).

Sebagai tentara, tak diragukan Wiranto memiliki prestasi cemerlang. Karirnya mulus dan mencapai puncak sebagai Panglima ABRI. Sebagian besar pendidikan dan kursus dia selesaikan dengan predikat terbaik, di antaranya Kursus Intelijen 1972, Kursus Pembinaan Latihan Satuan 1974, Kursus Lanjutan Perwira 1975, Seskoad 1982, dan Lemhanas 1995.

Karir Wiranto tak berhenti sampai di situ. Pada 10 Juni 1997 dia dilantik menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Jabatan itu hanya setahun diembannya.
Pada 16 Februari 1998, dia dilantik menjadi Panglima ABRI. Setahun kemudian, dia merangkap pula sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan (Menhankam) Kabinet Pembangunan VII hingga 21 Mei 1998.

Di masa pemerintahan Habibie, Timor Timur melepaskan diri dari Republik Indonesia. Hal ini sebagai konsekuensi kelompok pro kemerdekaan memenangi opsi merdeka yang ditawarkan pemerintah Habibie. Timor Timur lalu membara pasca jajak pendapat. Terjadi bumi hangus dan pelanggaran HAM.

Tentu, selaku Panglima ABRI, Wiranto dituding sebagai pihak yang bertanggung jawab. Menurut Indra J. Piliang kasus ini masih menjadi satu-satunya masalah internasional yang berhubungan dengan masa lalu, shoft colonialism, yang dilakukan oleh Indonesia. Sekalipun banyak negara, terutama negara-negara maju, adalah bapak dari kolonialisme, kemampuan ekonomi, ilmu pengetahuan, militer, dan teknologi mereka dengan baik bisa membalikkan opini masyarakat dunia.

Dalam posisi yang lemah secara politik dan ekonomi, Indonesia tentu akan mendapatkan tekanan apabila masalah Timor Timor terus diangkat, sama halnya dengan soal pampasan perang, perempuan pemuas nafsu prajurit, dan lain-lainnya ketika Indonesia dijajah oleh Belanda dan Jepang.

Masalah tak henti sampai di situ. Wiranto diduga terlibat dalam kerusuhan Mei 1998. Kerusuhan ini mengakibatkan aktivitas ekonomi Jakarta lumpuh total. Etnik China menjadi korban penjarahan dan pemerkosaan. Apa jawabnya? “Tatkala seseorang dengan versinya, dengan pengetahuan yang terbatas, membuat sesuatu yang tidak jelas dan menyudutkan seseorang, itu tidak fair,” tuturnya kepada Harian Kompas. Menurutnya, terkait dengan peristiwa Mei, saat masih menjabat Menkopolkam, dia membuat Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF). Lantaran itulah dia merasa dikambinghitamkan.

Peralihan kekuasaan dari tangan Presiden Habibie ke tangan Gus Dur tak membuatnya tersisih. Dia tetap diangkat menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan (Menhankam) Kabinet Reformasi Pembangunan.

Pada saat Gus Dur berkuasa, dia diangkat sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menkopolkam) Kabinet Abdurrahman Wahid, 29 Oktober 1999 - dinonaktifkan 14 Februari 2000.

Garis karirnya yang terlalu lama mengawal Orde Baru mengundang kecurigaan terhadapnya. Alhasil di antara lima calon presiden, dia yang paling sering diserang dengan berbagai opini buruk. Kedekatannya dengan mantan Presiden Soeharto, memunculkan rasa kekhawatiran, apabila berkuasa bakal bergaya represif seperti halnya Soeharto. Terutama komitmennya mengenai kebebasan pers.

Ketakutan ini beralasan. Pasalnya dia pernah berkomentar bahwa kebebasan pers harus disertai tanggung jawab. Sebuah jargon yang di masa lalu sering dijadikan alat oleh rezim Orde Baru untuk membelenggu kebebasan pers.

PROFIL SOLAHUDDIN WAHID
Tak seperti Gus Dur, kakaknya yang kerap mengundang kontroversi, Solahuddin Wahid yang kerap disapa Gus Solah ini cenderung anteng. Kontroversi baru merebak ketika para aktivis HAM mempertanyakan keinginannya mendampingi Wiranto, yang tak lain adalah orang yang dia tuntut atas pelanggaran Hak Asasi Manusia di Timor Timur.

Lahir di Jombang pada 11 September 1942. Alumni ITB ini menjabat sebagai wakil ketua Komnas HAM periode 2002 hingga 2007. Karir organisasi bermula di Kepanduan Anshor. Semasa kuliah pada 1964 hingga 1966 aktif dalam komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Selanjutnya dia aktif dalam organisasi profesi semisal Persatuan Insinyur Indonesia, Ikatan Konsultan Indonesia, bahkan sempat menjadi Pemred Majalah Konsultan. Namun sebagai konsultan teknik, tak satupun bangunan monumental yang pernah dibangunnya. Karyanya juga biasa-biasa saja. Pada 1999 hingga 2004 dia menjabat ketua Tanfidziyah PBNU.

Saat Wiranto memintanya menjadi cawapres mendapinginya, Gus Dur merestuinya. Legalitas itu semakin penuh saat dia direstui oleh Rapat Tim 9 PKB, yang di dalamnya terdapat unsur dari PKB, NU, dan Kiai Khos.

KEBIJAKAN MENGENAI LINGKUNGAN
Meski gagal melangkah ke putaran kedua, dua sosok ini perlu diberi catatan sehubungan program kerja mereka mengenai lingkungan. Wiranto dan Solahuddin Wahid memiliki latar belakang berbeda. Wiranto seorang militer tulen, dan Solahuddin arsitek yang merangkap aktifis organisasi. Yang menyamakan mereka adalah, sama-sama tak memiliki aktivitas yang berhubungan dengan lingkungan hidup.

9. Sumber: Profil Presiden versi Habibie Center
10. TV 7, Tajuk Pagi, edisi 5 Juni 2004

Namun masalah lingkungan hidup tak mereka kesampingkan. Entah karena kondisi lingkungan hidup Indonesia, terutama hutan, yang rusak atau hanya sebatas program pelengkap semata. Wiranto-Solahuddin mengkategorikan masalah lingkungan dalam program kerja di bidang ekonomi.9 Pada butir 24, keduanya menekankan pelestarian fungsi lingkungan hidup. Dengan mencanangkan program rehabilitasi kerusakan sumber daya lahan hutan dan lahan, serta penetapan pelaksanaan pola pembangunan berwawasan lingkungan.10

Penempatan lingkungan dalam program kerja ekonomi – meski menempati urutan buncit – menunjukkan pasangan ini sadar, pertumbuhan ekonomi tak hanya digenjot dari sektor industri. Namun memerlukan pula dukungan dari lingkungan. Sementara kerusakan lingkungan di Indonesia tak dapat lagi diabaikan, mereka menetapkan memperbaiki kondisi lingkungan, terutama hutan, untuk menyokong pertumbuhan ekonomi.



© 2004, ISAI
Tim Penulis: Ludhy Cahyana, Tri Mariyani Parlan    Tim Peneliti: Dyah Listyorini, Iwan Achmad Ambiya, Waryanto, Nanin Upiyanti, Juita Kartini    Diterbitkan oleh: Institut Studi Arus Informasi (ISAI)/Koalisi Media untuk Pemilu Bebas dan Adil serta didukung oleh Greencom.