PROFIL SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
Pria berperawakan tinggi besar ini kian berkibar namanya di era Presiden Gus Dur. Susilo Bambang Yudhoyono, bahkan sempat disebut namanya sebagai menteri pertama. Gus Dur sendiri menyebut mantan jenderal bintang empat itu sebagai calon presiden yang oke punya.
Susilo Bambang Yudhoyono, yang lazim disebut pers dengan SBY, lahir di Pacitan, Jatim, 9 September 1949. Karir militernya mulai melonjak setelah SBY menjadi Komandan Peleton di Yonif Linud 330 pada 1974. Karirnya melesat pesat seiring dengan citranya sebagai jenderal intelektual.
Meski anak tunggal, Sosilo bukanlah tipikal anak manja nan berkecukupan. Soekotjo, ayahnya, berpangkat pembantu letnan satu (peltu), gajinya sangat kecil. Sebagai Komandan Komando Rayon Militer (Danramil) yang bertugas di satu kecamatan terpencil di Pacitan, tentu minim seseran.
Anak pasangan Soekotjo dan Siti Habibah ini, lahir seusai adzan dzuhur, 9 September 1949, di rumah kakeknya di Desa Tremas, 12 kilometer dari Kota Pacitan. Sebagai anak tunggal dia berlimpah kasih sayang dari kedua orangtuanya. Ayahnya yang tentara memang kerap berpindah tempat tugas. Tak heran bila kelahirannya tak ditunggui ayahnya. Karena ayahnya yang sering pindah tugas itulah, demi kelancaran sekolahnya dia tinggal bersama Sasto Suyitno, pamannya yang menjadi Lurah Desa Ploso, Pacitan.
Seperti pembawaan anak tunggal pada umumnya, dia harus menjaga penampilannya agar tetap menarik. Dan itu terbawa hingga dewasanya. Bahkan ketika posisinya telah menjadi calon presiden, dia selalu menjaga penampilannya kapan dan di mana pun. Menurut cerita teman-temannya, anak tunggal dari pasangan Soekotjo dan Siti Habibah yang kini sering dipanggil SBY ini tindak tanduknya terjaga, sopan, dan menunjukkan perhatian kepada orang lain.
Kesiapannya untuk selalu diandalkan membentuk wibawa dan karismanya. Seperti gambaran Alfred Adler, pakar psikologi, seorang anak tunggal secara psikologis punya pengaruh besar dalam pembentukan kepribadiannya.
Sejak menjadi murid Sekolah Rakyat Gajahmada (sekarang SDN Baleharjo I), Yudhoyono yang dipanggil Susilo atau Sus oleh kedua orangtuanya sudah tampak menonjol. Ayahnya mendidiknya dengan keras dan disiplin.
Saat SMA, Yudhoyono bersama teman-teman membentuk klub voli, Rajawali dan kelompok musik bernama Band Gaya Teruna. Dalam kelompok musik itu dia memainkan gitar bas, atau menjadi vokalis khusus untuk lagu sedih dan sendu.
Sebagaimana pemuda lain dari daerah gersang dan terpencil, keinginan keluar daerah untuk mengubah nasib adalah sebuah harapan. Pada akhirnya dia memutuskan berjuang untuk mewujudkan cita-cita masa kecilnya menjadi tentara. Dia lalu mendaftar masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri).
Karena terlambat mendaftar, Yudhoyono tidak langsung masuk Akabri saat lulus SMA akhir tahun 1968. Satu tahun sebelum masuk Akabri, Yudhoyono sempat menjadi mahasiswa Teknik Mesin Institut 10 Nopember Surabaya (ITS). Namun, Yudhoyono kemudian memilih masuk Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama di Malang, Jawa Timur. Di Malang ia dapat lebih leluasa mempersiapkan diri masuk Akabri. Tahun 1970 Yudhoyono masuk Akabri di Magelang, Jawa Tengah, setelah lulus ujian penerimaan akhir di Bandung.
Saat Yudhoyono menjalani pendidikan militer, Mayjen Sarwo Edhi Wibowo yang kemudian menjadi bapak mertuanya bertindak sebagai Gubernur Akabri. Yudhoyono satu angkatan dengan Agus Wirahadikusumah, Ryamizard Ryacudu, Prabowo Subianto,Yudi M Yusuf, dan Wresniwiro. Di akhir pendidikan, Yudhoyono yang mendapat julukan Jerapah menyabet predikat lulusan terbaik Akabri 1973. Dia disemati lencana Adhi Makasaya. Presiden Soeharto menyerahkan dan menyematkan langsung lencana itu kepadanya.
Selain meraih prestasi terbaik, di tahun keempat pendidikan militer inilah cintanya tumbuh dan bersemi. Tidak tanggung-tanggung, putri Sarwo Edhie, Kristiani Herrawati, diincarnya. Pertemuan pertama dengan Kristiani bukannya dia sengaja. Namun, jabatan sebagai Komandan Divisi Korps Taruna Yudhoyono membuatnya harus melapor kepada Sarwo Edhie. Biasanya laporan itu dilakukan bila ada kegiatan yang akan dilakukan para taruna. Kebetulan, waktu itu Kristiani sedang berlibur di Lembah Tidar menemui orangtuanya.
Sejak pertemuan pertama di rumah Sarwo Edhi Wibowo, Yudhoyono kerap menyempatkan diri main ke rumah dinas gubernur dengan harapan bertemu Kristiani. Cintanya tak bertepuk sebelah tangan, usai saling mengenal satu sama lain, keduanya lantas pacaran.
Mendengar hubungan cinta putranya dengan putri Sarwo Edhie, Soekotjo kaget bukan kepalang dan menganggap Yudhoyono salah bergaul. Namun, lantaran Yudhoyono mampu meyakinkan ayahnya bahwa perbedaan status tidak menjadi pertimbangan utama dalam hubungan cintanya, Yudhoyono dan Ani terus melangkah. Apalagi sejak awal, istri Sarwo Edhie telah simpati kepadanya. Kisah cinta keduanya berjalan lancar, tanpa aral.
Namun mereka tak segera menikah, Ani ke Korea Selatan ikut ayahnya sebagai Duta Besar di sana dan Yudhoyono ke Amerika Serikat mengikuti pendidikan Airborne dan Ranger. Pernikahan baru dilaksanakan 30 Juli 1976 bersama-sama dengan dua putri Sarwo Edhie lain yang juga mendapat jodoh tentara. Lantaran unik, pesta pernikahan tiga bersaudara yang dilangsungkan di Hotel Indonesia itu menjadi tontonan tamu hotel.
Dari perkawinan itu lahir dua putra, yaitu Agus Harimurti Yudhoyono yang mengikuti jejak ayahnya menjadi tentara (lulusan terbaik Akmil 2000) dan Edhie Baskoro Yudhoyono yang lebih memilih tak menjadi tentara. Baskoro kemudian memilih kuliah di Curtain University, Australia.
Yudhoyono mengakhiri karir militernya sebagai Kepala Staf Sosial Politik ABRI yang kemudian berubah nama karena reformasi menjadi Kepala Staf Teritorial TNI, tahun 1998-1999. Akhir karir militer ini menyisakan duka karena sebagai tentara SBY ingin menjabat sebagai Kepala Staf TNI AD dan bahkan Panglima TNI. Dua jabatan ini memang terbuka luang baginya. Namun keputusan Presiden Abdurrahman Wahid menjadikannya sebagai Menteri Pertambangan dan Energi membuyarkan keinginannya.
Saat Gus Dur di ujung tanduk, menantu Sarwo Edhi Wiboso ini ditunjuk menjadi Menko Polsoskam. Dia memegang kendali maklumat yang dikeluarkan Gus Dur, yang menilai negara dalam keadaan darurat politik. Toh Gus Dur mendepaknya setelah menantu Sarwo Edhi itu menolak melaksanakan rencana dekrit presiden. Hal itu tak membuat bintangnya redup. SBY bahkan menjadi kandidat wapres dalam SI MPR akhir Juli 2001.
Bersamaan dengan masa akhir karir militernya itu, SBY dan keluarga tinggal di Puri Cikeas, Gunung Puteri, Bogor, Jawa Barat. Dari rumah yang dibangun di atas tanah seluas lebih dari 3.000 meter itu, SBY membangun mimpinya untuk menjadi presiden.
Keinginannya menjadi orang nomor satu bermula sejak kekalahannya di putaran kedua pemilihan wakil presiden dalam Sidang Istimewa MPR, Juli 2001. Setelah kekalahan itu, muncul rekomendasi beberapa kalangan yang meminta SBY mendirikan partai politik. Hal ini untuk melempangkan jalannya menjadi presiden. Satu tahun kemudian, SBY melontarkan nama Partai Demokrat sebagai partainya.
Sayang, keinginan besarnya itu dibangun bebarengan dengan tugas negaranya sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan dalam Kabinet Gotong Royong pimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri. Konsentrasinya yang terpecah tersebut sedikit banyak terasakan oleh Megawati yang ingin kembali menjadi presiden. Persaingan tertutup dalam satu perahu itu kemudian menjadi terbuka karena pernyataan suami Megawati, Taufik Kiemas. Buntut persaingan terbuka ini, SBY mundur dari kabinet menjelang kampanye pemilu legislatif.
Bersamaan dengan meningkatnya popularitas SBY, Partai Demokrat sebagai partai pendatang baru menuai hasil memuaskan dalam pemilu legislatif. Berada di urutan kelima dengan perolehan suara 8.455.225, SBY memiliki kendaraan untuk pencalonan dirinya sebagai presiden.
Meskipun demikian, Yudhoyono merasa tidak nyaman jika hanya dicalonkan oleh partai yang didirikannya saja. Setelah berkeliling mencari mitra koalisi, Partai Bulan Bintang (PBB) serta Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) sepakat bersama-sama mencalonkannya. Sebagai wakil presiden, SBY memilih Jusuf Kalla, orang yang pertama kali memberinya selamat setelah mundur dari Kabinet Gotong Royong.
Dengan bergabungnya Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Yusril Ihza Mahendra, pasangan Yudhoyono-Kalla mengedepankan visi yang sepertinya merupakan gabungan tiga tokoh ini, yaitu aman, adil, dan sejahtera.
PROFIL M. JUSUF KALLA
Lari dari konvensi Partai Golkar, akhirnya menclok di samping SBY, sebagai cawapres. Itulah Jusuf Kalla. Menjadi Menko Kesra tampaknya adalah karir tertinggi Jusuf Kalla dalam bidang politik. Sebelumnya, dia pernah menjadi Menperindag beberapa bulan di era Presiden Gus Dur. Gus Dur lantas memecatnya dengan tuduhan KKN.
Pemecatan itulah yang menjadi salah satu alasan DPR untuk melengserkan Gus Dur dan menaikkan Mega sebagai presiden. Setelah pemecatannya dia kembali menjadi anggota MPR dari Utusan Daerah.
Setamat dari Universitas Hasanuddin, Makassar (1961-1967), Kalla melanjutkan sekolah ke The European Institute of Business Administration, Fontainebleau, Perancis, 1977. Kalla lahir dari keluarga pengusaha berada. Ayahnya, H. Kalla, adalah pemilik NV H Kalla di Makassar. Sedang ibunya adalah pemilik Yayasan Pendidikan Athirah, Makassar.
Tak berlebihan bila ada yang mengatakan dia seorang oportunis. Berlatar belakang keluarga pengusaha, ia memang terlatih mencari dan memanfaatkan kesempatan sejak kecil lewat didikan ayahnya. Dalam dunia usaha hal itu memang dinilai positif, bahkan dalam literatur bisnis dan psikologi populer sifat itu sering disebut sebagai salah satu kunci kesuksesan.
Lahir di Bone, Sulsel, 15 Mei 1942. Dari perkawinannya dengan Mufidah Jusuf Kalla, dia memperoleh lima orang anak. Kesuksesan Jusuf Kalla dalam bisnis menunjukkan ia memang pandai memanfaatkan kesempatan. Berbagai jenis bisnis telah dijalankan dan ia dikenal sebagai pengusaha kaya yang banyak meraup keuntungan dari kerja kerasnya.
Kini dunia politik dirambahnya. Namun itu bukan dunia baru baginya. Di masa kuliah, Jusuf pun terlibat aktif dalam organisasi pemuda yang terkait dengan aktivitas politik. Kemudian dia bergabung dengan Golkar.
Kalla merambah Senayan sejak 1998 dengan menjadi anggota MPR dari Utusan Daerah. Ketika Gus Dur menjadi presiden, Kalla ditunjuk sebagai Menperindag, 1999-2000 dari unsur Partai Golkar. Patut dicatat bahwa selaku Menko Kesra dan Taskin, Jusuf berhasil mendamaikan pertikaian berbau SARA di Poso dan Maluku melalui pertemuan Malino I dan II di Sulawesi Selatan.
Ambisi Jusuf Kalla untuk menjadi salah satu pimpinan tertinggi lembaga eksekutif Indonesia bisa dilacak. Ambisi-ambisi besarnya berasal dari pengasuhan dan pendidikan dalam keluarga. Sejak Jusuf Kalla masih kecil, ayahnya menanamkan bahwa anak lelaki pertama dalam keluarga itu harus menjadi pemimpin.
Sebuah peristiwa diceritakan ibunya tentang penanaman ambisi menjadi pemimpin yang terus dikobarkan ayah dalam diri Jusuf Kalla. Ketika masih di sekolah dasar, Jusuf Kalla pernah bekerja paruh waktu menjadi penjaga tempat penitipan di sekolah. Mengetahui kegiatan anaknya, sang ayah pun marah, lalu menjemput ke tempat dia kerja, menyuruhnya pulang sambil mengatakan, “Saya membesarkan kamu bukan untuk jadi pesuruh, tapi untuk jadi pemimpin”.
Kejadian itu yang selalu diingat Jusuf Kalla. Dan menjadi salah satu pengalaman yang berperan dalam pembentukannya sebagai pemimpin di kemudian hari. Sebagai anak laki-laki tertua, ia memang diharapkan menjadi penerus memimpin usaha keluarga. Tuntutan-tuntutan ayah terinternalisasi dalam kepribadian Jusuf, berkembang menjadi ego ideal yang selalu mengingatkannya untuk terus berusaha menjadi pemimpin dengan segala kualitas terbaik.
Ego ideal sebagai pemimpin memberi semacam energi yang menggerakkannya di dunia politik. Kenyataan bahwa awalnya ia lebih banyak berkiprah di bidang bisnis tak lepas juga dari sang ayah yang pengusaha. Ia melakukan identifikasi, mencontoh tindakan-tindakan ayah dalam menghadapi berbagai tuntutan dan masalah di dalam dan di luar diri.
Kalla seolah menduplikat kiat dan nilai-nilai yang ditanamkan ayahnya, terutama mengenai keuletan, kemampuan melihat celah-celah kesempatan dan memanfaatkannya, sifat realistis menghadapi kenyataan, berpikir taktis menggunakan prinsip ekonomi, kesederhanaan, serta kemampuan manajemen ayah dalam usaha mencapai kemajuan, juga diinternalisasi ke dalam dirinya.
Hal ini diperkuat dengan figur ibu yang juga selalu memberi penguatan pentingnya peran ayahnya, dan perlunya dia mencontoh jejak ayahnya. Perpaduan pola pengasuhan yang ditampilkan ibu dan ayahnya menguatkan karakternya, yang kemudian mengarahkannya menjadi pengusaha seperti sekarang.
Keikutsertaan Jusuf dalam pemilu presiden sebagai cawapres digerakkan oleh perpaduan tuntutan menjadi pemimpin dan nilai-nilai sebagai pengusaha. Ia yang cenderung ingin memberikan pengaruh dan perbaikan bagi orang banyak dipadukan dengan dorongan mendapat hasil yang baik dan menguntungkan.
KEBIJAKAN MENGENAI LINGKUNGAN
Kedua tokoh ini ternyata lekat dengan masalah lingkungan. SBY pernah menjadi menteri pertambangan dan energi. Dengan demikian, setidaknya dia pernah mempelajari ihwal kaitan pertambangan dengan lingkungan hidup. Demikian pula Jusuf Kalla. Meski dia seorang pengusaha tulen, dia pernah memprakarsai Pertemuan Malino III di Malino, Gowa, Sulawesi Selatan pada 12 Desember 2003. Pertemuan itu menjadi tonggak dasar temu nasional gerakan rehabilitasi hutan dan lahan.
Sebagaimana kandidat lain, SBY menempatkan isu lingkungan dalam salah satu program perbaikan ekonomi. Pasangan ini menjanjikan perbaikan pengelolaan sumberdaya alam dan pelestarian mutu lingkungan hidup. Prakteknya, mereka mengajukan lima program, yakni (1) Menegakkan hukum mengenai sumber daya alam, (2) menciptakan insentif dan disinsentif dalam mengelola sumber daya alam, (3) Memperbaiki koordinasi lintas departemen dalam pengendalian dan pengelolaan sumber daya alam, (4) Melibatkan masyarakat dalam mengelola sumber daya alam, (5) Menindak penyelewengan pengelolaan sumber daya alam yang dilakukan aparat birokrasi.
| © 2004, ISAI Tim Penulis: Ludhy Cahyana, Tri Mariyani Parlan Tim Peneliti: Dyah Listyorini, Iwan Achmad Ambiya, Waryanto, Nanin Upiyanti, Juita Kartini Diterbitkan oleh: Institut Studi Arus Informasi (ISAI)/Koalisi Media untuk Pemilu Bebas dan Adil serta didukung oleh Greencom. |
