Amien Rais dan Siswono Yudohusodo

PROFIL AMIEN RAIS
Sebuah majalah pernah menjulukinya sebagai King Maker. Julukan itu merujuk pada besarnya peran Amien Rais dalam menentukan jabatan presiden pada Sidang Umum MPR 1999 dan Sidang Istimewa 2001. Padahal, perolehan suara PAN, partainya, tak sampai 10% dalam Pemilu 1999.

Cita-cita Amien waktu kuliah di Fakultas Sosial Politik Universitas Gajah Mada Yogyakarta ingin menjadi diplomat. Selesai tahun 1968, ia melanjutkan studi ke Notre Dame Catholic University di Indiana, AS. Sebelum itu ia sempat mengenyam setahun menjalani penelitian di Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir, sebagai siswa tamu. Di Notre Dame, ia juga mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Uni Sovyet dan Eropa Timur. Ia lulus dari universitas ini 1974.

Sebelum dunia politik nasional mengenal Amien, ia sudah malang melintang di dunia pendidikan dan organisasi massa keagamaan. Dari almamaternya, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, dia dianugerahi penghargaan sebagai guru besar di bidang ilmu politik pada 10 April 1999. Saat itu dia berpidato dengan judul pidato Pengukuhan Kuasa, Tuna Kuasa, dan Demokratisasi Kekuasaan.

Amien dibesarkan dalam keluarga guru yang peduli dengan pendidikan. Ia lahir di Solo, 26 April 1944, dari pasangan H Syuhud Rasyid dan Sudalmiyah. Syuhud sejak kecil sudah dikirim ayahnya, Umar Rais, untuk belajar di Madrasah Mualimin Muhammadiyah Yogyakarta. Saat lulus, Syuhud langsung mengajar di sekolah-sekolah Muhammadiyah di berbagai kota di Indonesia, seperti Palembang, Pare-pare, dan Pekalongan. Di Pekalongan inilah Syuhud bersahabat karib dengan Muhammad Adnan, ayah Adi Sasono, mantan Ketua Umum ICMI.

Sudalmiyah, putri dari Wirjo Soedarmo yang punya nama kecil Sukiman, berasal dari Gombong. Ibu Sukiman, Nyonya Rakilah, cicit dari Bupati Kebumen. Ia aktif di Aisyiyah, sayap perempuan Muhammadiyah setelah sebelumnya sering mendengar ceramah Kiai Ahmad Dahlan di Jakarta. Setelah lulus dari Hogere Indlandse Kweekschool, ia langsung menjadi guru di sekolah Muhammadiyah.

Amien sendiri merupakan anak kedua dari enam bersaudara. Sedangkan masa kecilnya dihabiskan di Kepatihan Kulon, Solo. Sebuah wilayah yang sebagian besar penduduknya bisa dikatakan sebagai “Islam Abangan”. Tidak heran kalau keluarga ini menjadi salah satu keluarga yang disegani masyarakat sekitar.

Sejak kecil, orangtua Amien sudah mengajarkan pada anak-anaknya agar bangun pagi, shalat tepat waktu, banyak membaca, serta berbudi pekerti baik. Dari lingkungan, Amien banyak belajar tentang realitas masyarakat. Dia sangat dekat dengan kondisi keluarga miskin, di kampung sederhana. Sangat tahu betul bentuk ruang tidur, bahkan dapurnya.

Ketika usia SD dan SMP, selain belajar di sekolah umum Muhammadiyah, ibunya mengirimkan Amien ke Madrasah Ibtidaiyah Mambaul Ulum untuk belajar keagamaan. Begitu juga ketika di SMP, ibunya juga mengirimkan Amien belajar di Madrasah Tsanawiyah Khususiyah Al-Islam. Namun, ketika di SMA, Amien tidak lagi belajar dobel di madrasah.

Salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang diikutinya di luar jam sekolah adalah Hisbul Wathon. Sebuah organisasi kepanduan yang ada di lingkungan Muhammadiyah. Di Hisbul Wathon ini pula Amien berkenalan dengan Hari Sabarno yang sekarang menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri.

Rumah Haji Asdi Narju, yang menjadi tempat kosnya selama tiga tahun pertama di Yogyakarta, letaknya tidak jauh dari Masjid Agung. Di masjid ini pula Kiai Ahmad Dahlan pertama kali membuat revolusi pemahaman beragama. Di masjid tersebut Amien berinteraksi dengan tokoh Muhammadiyah AR Fachruddin dan berkenalan dengan ilmu agama. Namun, ilmu agama secara sistematis diperolehnya di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Di IAIN inilah Amien berkenalan dengan para intelektual Muslim, seperti Prof Mukti Ali dan Dawam Rahardjo, yang akhirnya membentuk kelompok diskusi limited group. Sebuah kelompok diskusi yang punya pengaruh cukup besar saat itu.

Pengalaman menuju puncak di Muhammadiyah menjadi terbuka ketika dia terpilih sebagai anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam Muktamar Muhammadiyah ke-41 di Solo pada Oktober 1985. Kemudian dia diserahi tugas sebagai ketua majelis tarjih yang menangani soal fatwa. Lima tahun kemudian, dalam muktamar Muhammadiyah, nama Amien mulai disebut sebagai pesaing kandidat pucuk pimpinan Muhammadiyah. Amien hanya kalah tipis dari Azhar Basyir yang mendapat dukungan suara 997, sementara Amien 994.

Tahun 1993, di depan peserta tanwir Muhammadiyah, Amien mulai melemparkan pikiran tentang perlunya suksesi pimpinan nasional. Suatu hal yang masih sangat tabu pada saat itu. Pasalnya, hampir tidak ada orang yang berani mengusik ketenangan Soeharto dari kursi kekuasaannya. Ketika Azhar Basyir meninggal tahun 1994, Amien pun ditunjuk sebagai pengganti sampai kongres mendatang.

Karena sikap kritisnya pada Soeharto, banyak yang meragukan Amien akan terpilih sebagai ketua umum dalam Muktamar Muhammadiyah tahun 1995 di Aceh. Hasilnya justru menunjukkan kebalikan, bahkan Amien menang dengan dukungan suara hampir mutlak, 98,5 persen. Sebuah dukungan tertinggi dalam sejarah Muhammadiyah, dan berhasil mengangkat pamor Muhammadiyah di tingkat nasional.

Ketika reformasi mulai bergulir, 22 Agustus 1998 Amien meninggalkan kursinya di Muhammadiyah untuk terjun ke politik dengan membentuk partai baru. Sehari kemudian Amien mendeklarasikan berdirinya Partai Amanat Nasional (PAN). Pada 1998 Amien pernah menanggapi pernyataan Menteri Dalam Negeri R Hartono yang menyatakan akan memulai reformasi pada 2003. Bagi Amien, kalau memang ingin melakukan reformasi tak perlu menunggu hingga tahun 2003. “Reformasi sekarang saja,” ucapnya.

Pada saat itu demonstrasi secara sporadis sudah mulai terjadi. Empat mahasiswa Universitas Trisakti menjadi korban dan tewas tertembak pada 12 Mei 1998. Kematian ini pula yang kemudian memancing kemarahan dan amuk massa. Akibatnya, berjatuhan korban manusia dan harta yang tidak sedikit. Akhir dari pergulatan ini, Soeharto mengundurkan diri dari kursi kekuasaannya pada 21 Mei 1998.

Pada era menjelang keruntuhan Orde Baru, Amien adalah cendikiawan yang berdiri paling depan. Tak heran ia kerap dijuluki Loko Reformasi. Akhirnya setelah terlibat langsung dalam proses reformasi, Amien membentuk Partai Amanat Nasional (PAN) pada 1998 dengan platform nasionalis terbuka. Ketika hasil Pemilu 1999 tak memuaskan bagi PAN, Amien masih mampu menjadi ketua MPR.

Posisinya tersebut membuat peran Amien begitu besar dalam perjalanan politik Indonesia saat ini. Pada 1999, Amien memang urung maju dalam pemilihan presiden, tapi pada 2004 ini, ia berniat all out untuk tampil sebagai RI-1. Namun sayang, perolehan suara hanya menempatkannya di urutan ketiga.

PROFIL SISWONO YUDOHUSODO
Akhirnya Siswono Yudohusodo menjadi pendamping Amien Rais. Padahal sebelumnya dia adalah kandidat presiden koalisi partai yang tak memenuhi treshold.

Pada masa era kepemimpinan Presiden Soeharto, ia dua kali menjabat sebagai menteri, Menteri Negara Perumahan Rakyat (1988-1993) dan Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan (1993-1998). Ia adalah Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).

Siswono adalah satu dari dua kandidat calon wakil presiden dari kalangan pengusaha, pernah jadi anggota kabinet dan kini aktif mengurusi organisasi petani, serta lantang menyuarakan kepentingan kelompok masyarakat yang makin terpinggirkan di tengah gelombang perubahan besar saat ini.

Sebagai pengusaha, Siswono memulainya benar-benar dari bawah. Pria kelahiran Long Iram, Mahakam, Kalimantan Timur, 4 Juli 1943, ini bukan menjadi pengusaha karena faktor keturunan. Ayahnya adalah seorang dokter yang bekerja di pedalaman Kalimantan, beberapa kota di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. “Jadi, malang melintang di berbagai kawasan dan pedalaman bukanlah hal aneh buat saya,” ujar Siswono.

Sebelum memutuskan menjadi pengusaha, Siswono punya catatan soal aktivitasnya semasa mahasiswa. Selain di organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Siswono adalah Wakil Komandan Barisan Soekarno, sebuah organisasi massa pembela Bung Karno. Dan, itu dilakukannya di era di mana gerakan Angkatan 66 justru tengah marak berusaha menumbangkan Bung Karno, dan Siswono kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) sarang penentang Bung Karno.

Itu sebabnya, ketika gerakan Orde Baru sukses menumbangkan Bung Karno, Siswono sempat masuk penjara, ditahan oleh penguasa militer dan diskors satu semester dari ITB. Semasa menjalani skors itulah, Siswono mencari uang dengan memulai usaha berdagang hasil bumi, seperti bawang merah dan sayuran. Dia lalu membuat usaha mebel dan belakangan masuk ke bidang kontraktor.

Sebagai mantan loyalis Bung karno, memang agak mengejutkan ketika pada 1988 dia justru diangkat sebagai Menteri Negara Perumahan Rakyat oleh Soeharto. Rupanya Soeharto justru melihat talentanya sebagai orang yang gigih berusaha, berkutat di bidang perumahan murah.

Siswono menjadi sosok yang bukan cuma makin kuat dengan idealisme, tapi punya kekuasaan mewujudkannya. Sikap kerakyatannya mewujud makin jelas. Dia pacu tabungan perumahan pegawai negeri, dia tebar rumah sederhana, rumah sangat sederhana di mana-mana, dia gelar kapling siap bangun. Begitu juga saat menjadi Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan, dia hidupkan transmigrasi swakarsa mandiri. Memberdayakan rakyat adalah obsesinya.

Dia hidup dengan idealismenya sendiri. Dan itu tak hilang ketika dia menjadi pejabat negara. Meski ketika dia berbisnis kadang harus mengikuti aturan main bisnis, Siswono tidak larut, tidak terhanyut. Begitu menjadi Menteri Perumahan Rakyat, Siswono langsung mencoret PT Bangun Cipta Sarana dari daftar rekanan dan dari kegiatan proyek pembangunan Perum Perumnas. Padahal, perusahaan Siswono justru dikenal sebagai jagonya perumahan rakyat. Bahkan, perusahaan itu juga dicoret dari proyek pembangunan Gelora Senayan dan Kemayoran karena Siswono menjadi Wakil Ketua Yayasan.

Ketika menjadi Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan, dia juga mendepak perusahaan miliknya. Padahal, perusahaan kontraktor besar yang didirikannya itu telah lama menjadi rekanan Departemen Transmigrasi dalam membuka lahan transmigrasi di Sumatera Selatan, Bengkulu, Kalimantan Timur, dan beberapa kawasan lain. Menurutnya, seandainya perusahaannya fair dia tetap dituduh macam-macam, apalagi tidak fair. Mending tak usah dia ikutkan tender.

Sebelum menjadi menteri, sejak 1982 Siswono menjadi anggota MPR Utusan Daerah DKI Jakarta. Sejak 1987 dia mewakili Golkar di MPR hingga akhir masa Orde Baru. Sejak era reformasi dia menjadi utusan golongan mewakili petani. Sejak tidak lagi menjadi menteri, Siswono secara sukarela memimpin Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).

Di sinilah keterlibatannya pada kepentingan petani makin terasa. Sejatinya dia tidak pernah berencana memasuki organisasi itu pada 1999. Kejadiannya begini. Ketika sedang ada urusan bisnis di Jepang, dia ditelepon rekannya dari Jakarta. Kawannya itu memberi kabar, kalau dia diusulkan dan dipilih menjadi Ketua Umum HKTI. Tentu dia terkejut, karena tak pernah bersentuhan dengan dunia tani. Sejak itu dia belajar keras pertanian dan sekuat tenaga memperjuangkan nasib mereka. Dia memang tak bisa setengah-setengah bila mengerjakan sesuatu.

Mengenai kembalinya dia ke gelanggang politik, bermula dari dukungan tiga partai yang tidak memenuhi electoral threshold, yaitu Partai Persatuan Demokrasi Indonesia (PPDI), Partai Nasional Indonesia (PNI) Marhaenisme, dan Partai Syarikat Indonesia (PSI). Kemudian jumlahnya bertambah dengan Partai Pelopor, Partai Buruh Sosial Demokrat (PBSD), Partai Nasionalis Banteng Kemerdekaan (PNBK), dan Partai Merdeka. Dengan gabungan suara partai-partai itu, perolehan suara yang didapat sudah 5,1%. Sebenarnya dengan jumlah itu memenuhi syarat untuk mencalonkan diri sebagai presiden.

KEBIJAKAN MENGENAI LINGKUNGAN
Gelar boleh Doktor politik, namun Amien dikenal sebagai pribadi yang kritis. Sejak 1996, seperti salah satu opininya dalam Majalah Ummat, dia telah mengkritisi keberadaan PT Freeport Indonesia yang telah mengeduk miliaran dolar dari Indonesia. Menurutnya bila pembagian adil dalam masalah pertambangan, hutang Indonesia telah impas sejak dahulu. Begitupula mengenai kerusakan lingkungan yang diakibatkan PT Freeport Indonesia. Namun sayang, kritisnya terhadap lingkungan tak berlanjut setelah dia menjabat ketua MPR.

Siswono sebagai ketua HKTI, dia kerap bersinggungan dengan dunia pertanian yang karib dengan lingkungan. Tak salah bila saat kampanye, baik dirinya maupun Amien paling getol mengkritisi soal illegal logging dan kerusakan lingkungan.
Amien-Siswono tak seperti capres lain, mereka menempatkan program lingkungan dan hutan tidak dalam program ekonomi, tapi dalam agenda reformasi. Artinya hal lingkungan dan hutan adalah prioritas mereka. Dalam butir kesebelas, agenda reformasi mereka menyebut: sebagian pimpinan dan rakyat sesungguhnya sedang melakukan pembunuhan lingkungan alam, dengan merusak secara nyaris total hutan-hutan kita. Untuk itu perlu program mendesak untuk merestrukturisasi HPG secara menyeluruh, relokasi intensif dan esktensif di bawah tekanan waktu dan mencegah sungguh-sungguh kebakaran hutan yang selama ini terjadi tiap tahun.
Untuk itu penjabran program ekonomi mereka adalah mengembangkan sektor pertanian, agribisnis, kehutanan, kelautan, pertambangan, dan pariwisata sebagai sektor prioritas dalam pembangunan berkelanjutan.



© 2004, ISAI
Tim Penulis: Ludhy Cahyana, Tri Mariyani Parlan    Tim Peneliti: Dyah Listyorini, Iwan Achmad Ambiya, Waryanto, Nanin Upiyanti, Juita Kartini    Diterbitkan oleh: Institut Studi Arus Informasi (ISAI)/Koalisi Media untuk Pemilu Bebas dan Adil serta didukung oleh Greencom.