Pada tataran ideal, sebuah berita harus dapat melepaskan diri dari keberpihakan. Baik dalam bentuk pencampuran opini dalam fakta. Pada analisis berita lingkungan, terdapat berita yang tak menyuguhkan liputan dua sisi atau coverboth side dan dipenuhi dengan pemasukan opini ke dalam fakta.
Hal ini menyebabkan mampatnya daya kritis pembaca sekaligus menguntungkan capres atau cawapres yang diberitakan. Sebagai permisalan simak pemberitaan mengenai Megawati di Harian Suara Pembaruan. (Lihat Tabel 16. Kualitas Berita Lingkungan Hidup dalam Kampanye Pemilihan Presiden di Suratkabar, 1 Juni-1 Juli 2004)

Bila diperhatikan, rata-rata berita mengenai Megawati di Suara Pembaruan, selalu disosokkan sebagai positif. Program pemerintahan Megawati dalam kampanye diekspos tuntas dalam porsi besar. Sebagai permisalan simak rubrik Prespektif: Mega Beri Bukti Bukan Janji, dalam berita berjudul Megawati Cinta Lingkungan (Suara Pembaruan, 11/06/04).
Berita ini hanya menyuguhkan narasumber Agus “Pungky” Purnomo, Peneliti Senior Pelangi (LSM Lingkungan) sekaligus mantan Direktur Walhi. Tentu dengan pernyataan Pungky yang memuji Megawati sebagai tokoh yang secara emosional memiliki ketertarikan dan kecintaan mendalam pada kelestarian alam, konversi hutan, pelestarian laut, serta keanekaragaman hayat, membuat sosok Mega bak pahlawan lingkungan.
Berita ini tak pernah di-coverboth side dengan opini narasumber lain mengenai maraknya illegal logging yang justru marak lima tahun terakhir. Bila dibagi per tahun pemerintahan sejak jatuhnya Suharto, peningkatan illegal logging terjadi setahun di zaman pemerintahan Habibie, dua tahun di zaman Gus Dur, dan dua tahun di zaman Megawati. Artinya pada zaman Megawati praktek penyelundupan dan pencurian kayu masih terus terjadi.
Maka, berita ini cenderung menguntungkan Megawati, sebab tak ada opini tandingan. Benar bahwa Megawati mengeluarkan kebijakan quota tebang, namun di lapangan tak pernah efektif, karena dia tak tegas menindak para pelakunya.
Sedangkan 3 berita yang tak terdapat cek dan ricek, bukan berarti berita itu tak melakukan konfirmasi dengan narasumber. Berita-berita tersebut adalah mengenai program kerja capres-cawapres bila mereka terpilih menjadi presiden dan wakil presiden. Misalnya berita mengenai kampanye Amien Rais dan Siswono di Samarinda (Media Indonesia, Amien Siswono Janji Perbaiki Sendi Demokrasi, 06/06/04), SBY : Fokus ke Depan Adalah Keamanan, Keadilan, dan Kesejahteraan (Suara Pembaruan, 19/06/04).
| © 2004, ISAI Tim Penulis: Ludhy Cahyana, Tri Mariyani Parlan Tim Peneliti: Dyah Listyorini, Iwan Achmad Ambiya, Waryanto, Nanin Upiyanti, Juita Kartini Diterbitkan oleh: Institut Studi Arus Informasi (ISAI)/Koalisi Media untuk Pemilu Bebas dan Adil serta didukung oleh Greencom. |
