Perspektif Media

  • Media massa cetak maupun elektronik mengalami kegagalan dalam memberitakan kampanye capres mengenai lingkungan terutama illegal logging. Hal ini disebabkan karena minimnya durasi pada program berita reguler stasiun televisi. Sedangkan media massa cetak, yang memiliki ruang yang lebih lapang, ternyata tak memanfaatkannya. Harian Rakyat Merdeka, Kompas, Republika, Media Indonesia, dan Suara Pembaruan hanya menyebut illegal logging tanpa memberi penjelasan data sejauh mana kerusakannya dan akibat-akibatnya. Parahnya beberapa berita hanya benar-benar menyebut illegal logging saja, lalu diteruskan dengan penyebutan kerusakan lingkungan lain. Tanpa penjelasan.
  • Baik media massa cetak maupun elektronik seperti sama-sama tak memedulikan perihal lingkungan, mereka memberitakan apa yang dikatakan capres-cawapres. Seolah sebagai saluran orasi saja, tanpa mau melengkapi data seberapa parah kerusakan lingkungan yang terjadi di Indonesia. Hal ini berlaku terutama pada media massa elektronik. Media massa cetak untuk beberapa berita melakukan hal yang sama.



© 2004, ISAI
Tim Penulis: Ludhy Cahyana, Tri Mariyani Parlan    Tim Peneliti: Dyah Listyorini, Iwan Achmad Ambiya, Waryanto, Nanin Upiyanti, Juita Kartini    Diterbitkan oleh: Institut Studi Arus Informasi (ISAI)/Koalisi Media untuk Pemilu Bebas dan Adil serta didukung oleh Greencom.