Amien Rais dan Siswono Yudho Husodo paling galak menyoal illegal logging. Namun suara mereka paling sedikit di daerah-daerah yang marak praktek pembalakan hutan itu, kecuali propinsi Nagroe Aceh Darusslam. Gejala apa?
Inilah negeri yang aneh bin ajaib, di mana memilih presiden bukan di dasarkan kepada program kerja, kapabilitas, sensibiltas terhadap publik, apalagi lingkungan hidup. Pilihan atau kriteria presiden yang dipilih selalu bertautan dengan masalah kharisma, tampang, dan sesuatu yang sifatnya melankolis. Memilih presiden seperti jatuh hati pada pandangan pertama, lalu tak mau beranjak kepada hati yang lain.
Fenomena ini bermula dari pemilihan legislatif. Seperti yang dikatakan Hotman Siahaan, Sosiolog Universitas Airlangga-Surabaya, meski rata-rata parpol terlibat money politic dalam bentuk membagikan amplop sekedar uang bensin atau kaos saat berkampanye, namun para peserta kampanye memiliki pilihan tradisional masing-masing.
Masyarakat Betawi misalnya, mereka cenderung tetap setia pada Partai Persatuan Pembangunan, kebanyakan warga NU setia dengan PKB, demikian pula para pegawai negeri cenderung masih memilih Golkar, meski mereka diberi kebebasan hak untuk memilih partai lain. Terutama mereka yang berada di luar Jawa, masih simpati terhadap Golkar.
Lalu bagaimana dengan pemilihan presiden? Terdapat kasus yang menarik. Kali ini baik pilihan tradisional maupun simpati membaur menjadi campuran yang pekat. Tengok simpatisan PDIP, yang terus memilih Megawati. Sedangkan simpatisan Golkar belum tentu memilih Wiranto. Simak data temuan LP3ES sebagai berikut:
Suara Golkar misalnya, hanya 43,5 persen yang memilih Wiranto. Suara simpatisan mereka menyebar, dan kebanyakan malah nemplok kepada SBY. Namun simpatisan PDIP dan PAN rupanya lebih dari setengahnya masih memilih tokoh panutan mereka (Simak selengkapnya Tabel 1)
Fenomena unik adalah bagaimana kemenangan Susilo bambang Yudhoyono (SBY). Meski tak memiliki mesin politik sekuat Golkar, PDIP, maupun PKB suaranya melejit tak terbendung. Inilah buntut perseteruannya dengan Taufik Kiemas dan Megawati. SBY yang terus-menerus dicecar Taufik Kiemas, membalasnya dengan bijaksana tanpa dendam, alhasil dia memperoleh simpati dari publik.
Struktur budaya Indonesia yang mudah simpati atau kasihan terhadap orang yang dianiaya memang menguntungkan SBY. Di negara-negara berkembang di mana kemiskinan seperti urat nadi, berdenyut dan lekat dengan kehidupan. Membuat rakyatnya menggilai opera sabun – yang sedikitnya dapat meminggirkan sebentar beban hidup. Mereka berharap ilusi mengenai glamour dan kharisma tokohnya dapat mengubah nasib.
Salah satu ciri opera sabun dunia ketiga yang miskin adalah tokohnya selalu dianiaya di babak awal dan merasakan nikmatnya kemenangan di akhir babak. Misalnya menjadi kaya di akhir skenario atau berhasil mendapatkan kekasihnya kembali. Hal ini dialami Megawati saat teraniaya pada zaman Orde Baru, yang membuat partainya memenangi Pemilu 1999 dan berikutnya dialami SBY.
Pencemaran nama baik SBY oleh Taufik Kiemas, seperti tokoh opera sabun yang dianiaya di babak awal lalu menuai simpati di mana-mana. Hal ini diperkuat dengan sosok SBY yang ramah tapi tegas dengan pembawaan cool membuat voters jatuh hati padanya. Padahal bila dikaitkan dengan masalah lingkungan, di antara para calon, SBY termasuk barisan capres yang jarang memunculkan isu lingkungan selama kampanye.
Justru masalah lingkungan dan illegal logging paling lantang diserukan Amien Rais, ketimbang Megawati atau kandidat presiden lain. Meski Amien getol menyuarakan lingkungan, lantaran tak mengalami drama teraniaya, popularitasnya kalah jauh ketimbang SBY.
Sebagai rujukan simak survei LP3ES, yang meneliti sikap politik masyarakat terhadap Pemilu 2004. Berkaitan dengan pelaksanaan pemilihan pasangan presiden dan wakil presiden yang digelar pada 5 Juli 2004 silam. Jauh sebelum pemilu LP3ES telah melakukan survei. Hasilnya, mayoritas (96 persen) dari mereka menyatakan akan menggunakan hak pilihnya. Sementara yang mengaku belum memutuskan untuk memilih hanya 2 persen, dan 1 persen yang tegas-tegas menyatakan tidak akan memilih.
Dari mereka yang menyatakan akan menggunakan hak pilih, umumnya (90,5 persen) sudah terdaftar dan sudah memiliki kartu tanda pemilih. Sebagian kecil (4,6 persen) mengatakan sudah terdaftar namun belum memiliki kartu tanda pemilih, dan 4,5 persen lainnya mengaku – hingga wawancara survei ini dilakukan – belum terdaftar.14
Dalam surveinya, LP3ES mengajukan pertanyaan, seandainya pemilu presiden dilaksanakan hari ini pasangan manakah yang akan dipilih, sebagian besar (35,8 persen) menjatuhkan pilihannya pada pasangan SBY-Kalla. Kemudian disusul – dengan persentase yang hampir sama besar — yakni pasangan Mega – Hasyim (17,5 persen) dan Wiranto – Wahid (17 persen). Sementara sebagian lagi (13 persen) pilihan masyarakat ditujukan pada pasangan Amien – Siswono, serta pasangan Hamzah – Agum (2,4 persen). Sebagian (3,7 persen) mengaku belum menentukan pilihan, dan mereka yang masih merahasiakan pilihannya 10,5 persen.(Lihat Diagram 3. Pasangan Capres/Cawapres yang Paling Disukai)
Pada akhirnya perhitungan suaralah yang menentukan. Dan prediksi LP3ES, ternyata tepat. SBY dan Jusuf Kalla memenangi Pemilu Presiden 2004 putaran pertama. Dari analisis media massa dan kampanye Amien Rais-Siswono di wilayah Nangroe Aceh Darusslam (NAD), Sumatera Utara, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Papua, keduanya paling kerap mempersoalkan masalah lingkungan terutama isu illegal logging.
Bila dikaitkan program lingkungan, ternyata sosok Amien Rais boleh dikatakan paling vocal. Namun pada akhirnya pilihan tradisional dan kharisma seorang tokoh yang berbicara. Hanya di NAD, Amien memenangi telak suara. Jauh meninggalkan empat pesaingnya, (Selengkapnya simak Tabel 18 Perolehan Suaran Pemilu Capres-Cawapres di Propinsi Rawan Illegal Logging). Perhitungan ini seolah mengamini prediksi LP3ES sebelumnya.
Terdapat beberapa kemungkinan. Masyarakat di daerah terjadinya illegal logging mengetahui benar apa yang menimpa lingkungan mereka. Dan mereka apatis terhadap pembalakan hutan. Kemungkinan mereka juga diuntungkan oleh adanya praktek tersebut di daerah mereka. Atau memang masyarakat di daerah tersebut tak memiliki kesadaran kolektif untuk memerangi illegal logging seperti yang didengungkan Amien Rais. Padahal, meski memperoleh sedikit keuntungan, dibanding bencana alam yang menimpa mereka, keuntungan itu tiada artinya.
Di samping itu, terdapat kemungkinan money politic yang dilakukan para pelaku pembalakan hutang, agar masyarakat di sekitar daerah yang marak illegal logging tak memilih Amien Rais. Alhasil pada satu kesimpulan, siapapun presiden yang akan datang, akan menemukan kesulitan memberantas praktek pembalakan hutan ini. Apabila tak disertai penegakan hukum yang tegas dan kesadaran masyarakat di sekitar daerah itu.
| © 2004, ISAI Tim Penulis: Ludhy Cahyana, Tri Mariyani Parlan Tim Peneliti: Dyah Listyorini, Iwan Achmad Ambiya, Waryanto, Nanin Upiyanti, Juita Kartini Diterbitkan oleh: Institut Studi Arus Informasi (ISAI)/Koalisi Media untuk Pemilu Bebas dan Adil serta didukung oleh Greencom. |
